Akhir-akhir ini perkembangan teknologi sangat pesat. Teknologi bukanlah sesuatu yang mutlak  bermanfaat, teknologi tetap ada sisi buruknya. Bisa diibaratkan pisau, teknologi jika digunakan di jalan yang benar maka akan membawa manfaat, namun jika disalah gunakan akan membawa mudharat. Akibat pesatnya teknologi tersebut membuat kita menjadi sangat tergantung dengan yang namanya teknologi, terutama internet. Bagi sebagian orang kadar kebahagiaan diukur dengan koneksi internet tanpa batas selama 1 x 24 jam x 30 hari x 12 bulan  dan seterusnya.

Pengaruh Gadget dalam Kehidupan Sosial

Kemajuan teknologi tersebut tanpa kita sadari melunturkan nilai etika tradisional meskipun membawa kemudahan dalam banyak hal. Contoh pertama tentang fenomena maraknya gadget, terintegrasinya internet dan ponsel yang menciptakan mobile internet ini ternyata membuat sebuah pepatah yang berbunyi :

Teknologi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat

anti-sosial

Ilustrasi Anti Sosial

Bingung maksudnya?? Begini, kita ambil contoh ketika kita tengah berkumpul bersama teman untuk makan siang atau acara lainnya, semua tampak sibuk dengan gadget masing-masing. Si A sibuk membalas komen status Facebooknya, si B sibuk dengan mention Twitternya, si C sibuk dengan chat YM-nya dan seterusnya. Di satu sisi kita bisa berinteraksi dan dekat dengan orang-orang yang jaraknya terpisah ribuan kilometer dengan kita namun di sisi lain kita menjadi jauh dengan orang yang jaraknya cuma beberapa centimeter dari kita. Kita menjadi anti sosial, tak peduli dengan lingkungan sekitar. Di kalangan remaja istilah ini dikenal dengan nama “AUTIS” namun sungguh saya sangat tidak setuju dengan istilah ini, Autisme bukan untuk bahan olok-olokan, saya lebih sreg menyebutnya dengan Anti Sosial.

 

Undangan Pernikahan via Facebook

Satu lagi bukti lunturnya nilai etika tradisional yaitu tentang fenomena undangan pernikahan via Facebook. Sejak Facebook menjadi tren di Indonesia maka seolah-olah segalanya bisa diselesaikan melalui Facebook, Salah satunya adalah undangan pernikahan. Sependek pengetahuan saya ada dua cara dalam mengundang pernikahan via Facebook. Yang pertama adalah melalui fitur yang memang disediakan oleh Facebook seperti di bawah ini :

undangan pernikahan via faceook

undangan pernikahan via faceook

Cara kedua adalah dengan mengunggah hasil scan undangan dan dilakukan penandaan (tagging) pada beberapa teman yang akan diundang ke pernikahan, cara ini sangat praktis, menghemat waktu dan biaya, namun ada nilai etika yang hilang. Pernikahan adalah sesuatu yang bersifat sakral maka ketika mengundang orang harus pula dilakukan dengan rasa khidmat, sebentuk undangan kertas yang diberikan seolah-olah adalah sebuah bukti otentik yang membuktikan bahwa kita telah diundang secara resmi dan terhormat meskipun undangan tersebut akan berakhir dikeranjang sampah atau ganjal meja.

Bagi saya pribadi hal tersebut tidak masalah dan boleh-boleh saja namun dengan prasyarat tertentu, diantaranya adalah teman yang mengundang jaraknya dengan kita terlalu jauh atau bisa jadi dia teman lama yang tidak mengetahui rumah kita. Saya tidak ingin membebaninya harus mengorbankan waktu pentingnya hanya untuk menyampikan undangan secara langsung maupun via pos atau kurir. Namun lain soal jika yang mengundang adalah teman dekat, tetangga atau saudara yang mana hampir setiap hari bertemu muka namun mengundangi pernikahan masih melalui Facebook,  maka sudah sewajarnya bila saya tersinggung.

Hmm….. pada akhirnya pantas dan tidak pantas terkadang bergantung pada kesapakatan yang berlaku dan juga kondisional maka dari itu pandai-pandailah membagi diri antara dunia maya dan dunia nyata, terlalu asyik dengan dunia maya membuat kita anti sosial, namun terlalu anti dengan dunia maya membuat kita bisa ketinggalan jaman. Yang penting “THINK BEFORE POSTING”

 

Model : Jay & Irrr

Tulisan Terkait